بسم الله الرحمن الر حيم
Puja dan Puji hanya milik Allah Pengada langit dan bumi beserta seluruh yang ada di dalamnya. Baik yang kasat mata hingga yang terlihat hanya dengan bantuan mikroskop. Yang mana seluruhnya semua bertasbih hanya padaNya. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah wallahu Akbar. Tempat kembali bagi seluruh nyawa yang Dia Ciptakan.
Salam sholawat pada Utusan yang dinanti-nanti kedatangannya hingga sebelum ia lahir Nabi pertama telah melihatnya melalui ujung kukunya dengan kehendak Sang Pencipta. Utusan yang paling bersinar namanya di seluruh jagat raya, hingga ke negeri akhirat. Utusan yang terakhir yang telah membawa cahaya paling terang di dunia dan melenyapkan segala kegelapan. Allahumma sholli wasallim 'alaih. Tak luput salam tertuju pada keluarga Sang Utusan, Sahabat-sahabat, tabi' tabi'in dan juga pada seluruh ummatnya yang meyakini ajarannya dan berpegang teguh padanya.
Ramadhan telah di ambang pintu. Sudah kah kita menargetkan amalan-amalan yang akan kita lakukan di bulan penuh berkah tersebut?
Berikut dikutipkan 9 amalan utama dalam bulan Ramadhan.
1. Shiyam/Puasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ
الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ
وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ
وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ
مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Setiap amalan anak Adam akan
dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan
sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa
Jalla berfirman,
‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya,
karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnyadan makannya
karena Aku’. Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; gembira ketika
berbuka puasa dan gembria ketika berjumpa Tuhannya dengan puasanya. Dan
sesungguhnya bau tidak sedap mulutnya lebih wangi di sisi Allah dari pada bau
minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Siapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban (dengan
keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak diragukan lagi, pahala yang
besar ini tidak diberikan kepada orang yang sebatas meninggalkan makan dan
minum semata. Ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ
وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barang siapa yang tidak
meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dengan ia
meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu) ini merupakan
kiasan bahwa Allah tidak menerima puasa tersebut.
Dalam sabdanya yang lain,
"Jika pada hari salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah ia
mengucapkan kata-kata kotor, membaut kegaduhan, dan juga tidak melakukan
perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang mencacinya atau mengajaknya
berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang
berpuasa'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika Anda berpuasa, maka
puasakan juga pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota tubuh.
Jangan jadikan sama antara hari saat berpuasa dan tidak.
2. Al-Qiyam/shalat malam/Tarawih
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang menunaikan
shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Ta'ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ
يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا
سَلَامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu
(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila
orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan
orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka."
(QS. Al-Furqan: 63-64)
Qiyamul lail sudah menjadi
rutinitas Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam dan
para sahabatnya. 'Aisyah Radhiyallahu
'Anhaberkata, "Jangan tinggalkan shalat malam, karena
sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam tidak
pernah meninggalkannya. Apabila beliau sakit atau melemah maka beliau shalat
dengan duduk." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu biasa melaksanakan shalat malam
sebanyak yang Allah kehendaki sehingga apabila sudah masuk pertengahan malam,
beliau bangunkan keluarganya untuk shalat, kemudian berkata kepada mereka,
"al-shalah, al-Shalah." Lalu beliau membaca:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ
وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ
لِلتَّقْوَى
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan
salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki
kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu
adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaahaa: 132)
Dan Umar bin Khathab juga biasa
membaca ayat berikut:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ
اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih
beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan
berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya?" (QS. Al-Zumar: 9)
Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Luar biasa
Utsman bin Affan Radhiyallahu
'Anhu" Ibnu Abi Hatim berkata, "Sesungguhnya Ibnu Umar
berkata seperti itu karena banyaknya shalat malam dan membaca Al-Qur'an yang
dikerjakan amirul Mukminin Utsman bin AffanRadhiyallahu 'Anhu sehingga beliau membaca Al-Qur'an
dalam satu raka'at."
Dan bagi siapa yang melaksanakan
shalat Tarawih hendaknya mengerjakannya bersama jama'ah sehingga akan dicatat
dalam golongan qaimin,
karena Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam pernah
bersabda, "Siapa yang shalat bersama imamnya sehingga selesai, maka
dicatat baginya shalat sepanjang malam." (HR. Ahlus Sunan)
3. Shadaqah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan
beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah
dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda,
"Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR.
al-Tirmidzi dari Anas)
Sesungguhnya shadaqah di bulan
Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dan semangat
dalam menunaikannya sesuai kemampuan. Dan di antara bentuk shadaqah di bulan
ini adalah:
a. memberi makan
Allah menerangkan tentang keutamaan
memberi makan orang miskin dan kurang mampu yang membutuhkan, dan balasan yang
akan didapatkan dalam firman-Nya:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى
حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ
لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا
يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ
وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً
وَحَرِيرًا
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya
kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami
memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak
menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari
itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka
dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan
kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka
(dengan) surga dan (pakaian) sutera." (QS. Al-Nsan: 8-12)
Para ulama salaf sangat
memperhatikan memberi makan dan mendahulukannya atas banyak macam ibadah, baik
dengan mengeyangkan orang lapar atau memberi makan saudara muslim yang shalih.
Dan tidak disyaratkan dalam memberi makan ini kepada orang yang fakir.
Rasullullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam bersabda,
"Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan
shalatlah malam di saat manusia tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan
selamat." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Sebagian ulama salaf ada yang
mengatakan, "Aku mengundang sepuluh sahabatku lalu aku beri mereka makan
dengan makanan yang mereka suka itu lebih aku senangi dari pada membebaskan
sepuluh budak dari keturunan Islmail."
Ada beberapa ulama yang memberi
makan orang lain padahal mereka sedang berpuasa, seperti Abdullan bin Umar,
Dawud al-Tha'i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal Radhiyallahu 'Anhum. Dan adalah
Ibnu Umar, tidaklah berbuka kecuali dengan anak-anak yatim dan orang-orang
miskin.
Ada juga sebagian ulama salaf lain
yang memberi makan saudara-saudaranya sementara ia berpuasa, tapi ia tetap
membantu mereka dan melayani mereka, di antaranya adalah al-Hasan al-Bashri dan
Abdullah bin Mubarak.
Abu al-Saur al-Adawi berkata:
Beberapa orang dari Bani Adi shalat di masjid ini. Tidaklah salah seorang
mereka makan satu makananpun dengan sendirian. Jika ia dapatkan orang yang
makan bersamanya maka ia makan, dan jika tidak, maka ia keluarkan makanannya ke
masjid dan ia memakannya bersama orang-orang dan mereka makan bersamanya.
b. Memberi hidangan berbukan bagi
orang puasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa yang memberi
berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa
dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan
al-Albani)
Dan dalam hadits Salman Radhiyallahu 'Anhu, "Siapa
yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya,
dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi
tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya."
4. Bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an
5. Duduk di masjid sampai matahari terbit
Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
apabila shalat Shubuh beliau duduk di tempat shalatnya hinga matahari terbit
(HR. Muslim). Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ
ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى
رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
تَامَّةٍ
"Siapa shalat Shubuh dengan
berjama'ah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu
shalat dua raka'at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah sempurna,
sempurna , sempurna." (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Keutamaan ini berlaku pada semua
hari, lalu bagaimana kalau itu dikerjakan di bulan Ramadhan? Maka selayaknya
kita bersemangat menggapainya dengan tidur di malam hari, meneladani
orang-orang shalih yang bangun di akhirnya, dan menundukkan nafsu untuk tunduk
kepada Allah dan bersemangat untuk menggapai derajat tinggi di surga.
6. I'tikaf
Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam senantiasa beri'tikaf pada bulan
Ramadhan selama 10 hari. Dan pada tahun akan diwafatkannya, beliau beri'tikaf
selama 20 hari (HR. Bukhari dan Muslim). I'tikaf merupakan ibadah yang
berkumpul padanya bermacam-macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa
dan lainnya. Bagi orang yang belum pernah melaksanakannya, i'tikaf dirasa
sangat berat. Namun, pastinya ia akan mudah bagi siapa yang Allah mudahkan.
Maka siapa yang berangkat dengan niat yang benar dan tekad kuat pasti Allah
akan menolong. Dianjrukan i'tikaf di sepuluh hari terakhir adalah untuk
mendapatkan Lailatul Qadar. I'tikaf merupakan kegiatan menyendiri yang
disyariatkan, karena seorang mu'takif (orang yang beri'tikaf) mengurung dirinya
untuk taat kepada Allah dan mengingat-Nya, memutus diri dari segala kesibukan
yang bisa mengganggu darinya, ia mengurung hati dan jiwanya untuk Allah dan
melaksanakan apa saja yang bisa mendekatkan kepada-Nya. Maka bagi orang
beri'tikaf, tidak ada yang dia inginkan kecuali Allah dan mendapat ridha-Nya.
7. Umrah pada bulan Ramadhan
Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
beliau bersabda,
عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ
"Umrah pada bulan Ramadhan menyerupai haji."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lain, "seperti haji
bersamaku." Sebuah kabar gembira untuk mendapatkan pahala haji bersama
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
8. Menghidupkan Lailatul Qadar
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ
خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al
Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS.
Al-Qadar: 1-3)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Dan siapa shalat pada Lailatul Qadar didasari
imandan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
9. Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar
Sesungguhnya malam dan siang
Ramadhan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak
dzikir dan doa, khususnya pada waktu-waktu istijabah, di antaranya:
- Saat berbuka, karena seorang yang
berpuasa saat ia berbuka memiliki doa yang tak ditolak.
- Sepertiga malam terkahir saat
Allah turun ke langit dunia dan berfirman, "Adakah orang yang meminta,
pasti aku beri. Adakah orang beristighfar, pasti Aku ampuni dia."
- Beristighfar di waktu sahur,
seperti yang Allah firmankan, "Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun
(kepada Allah)." (QS. Al-Dzaariyat: 18)
Mari kita melist amalan-amalan tersebut agar
full di bulan ramadhan. semoga kita keluar dari ramadhan dalam keadaan putih
bersih dan telah mendapatkan gelar tertinggi yakni orang-orang yang bertaqwa.
semoga kita bisa istiqomah dalam ketaatan padaNya.
aamiin Allahumma Aamiin.....
SubhanaKallahumma Rabbanaa wa bihamdiK
Asyhadu Anlaa ilaaha illa Anta AstghfiruKa wa atubu ilaiK.
Subhana Rabil 'Izzati 'amma yashifuun
wasalamun 'alal Mursaliin walhamdulillahi Rabill 'Alamiin Aamiin,

0 komentar:
Posting Komentar