Bismillahirrahmanirrahiim….
Sekian juta detik telah berlalu, menemani keseharianku di Asrama Tahfidz ini. Menjadi saksi akan suara-suara lantang ayat-ayat Allah dihafalkan…
Di sinilah aku. Di temani detik yang silih berganti mendahuluiku. Satu-satu menjadi saksi akan apa yang telah kuperbuat sebelum dia berlalu.
Detik tak lagi kurasakan seperti apa dia, kecuali ketika ia telah berpadu menjadi sekian menit. Ketika dia detik datang, sungguh dia bagaikan angin lalu. Menitpun begitu, seakan hanya semilir angin yang tak lama datang dan perginya. Detik ketika menjadi setengah jam, barulah aku menyadari keadaannya.
Inilah aku, yang seakan tak pernah menghargai waktu. Atau malah tak pernah menghargai waktu. Aku membiarkan dia berlalu tanpa menyadari dialah yang menjadi saksi akan diriku kelak. Aku belum mengimani akan surah tentang waktu. Ah, aku mengimani, namun aku belum bisa mengaplikasikan. Ah,, bingung aku membahasakan maksudnya.
45 hari. Aku berada di asrama para calon hafidzah Allah ini. Sekian itu pula aku menyaksikan akan semangat mereka yang luar biasa untuk meraih cahaya, mempersiapkan mahkota dan jubah untuk dua orang tercinta. Sedangkan aku? Entahlah, mungkin ini yang disebut ‘panas-panas tai ayam’. Hanya semangat di awal saja. Semangat yang kumiliki naik turun. Tak pernah tetap apalagi meningkat seperti mereka.
45 hari selama aku di sini, aku menyaksikan akan lembar per lembar yang dihafalkan setiap harinya. Akan semangat ustadz kami yang tak pernah lelah menjadi pendengar setoran kami dari detik ke detik hingga ashar berlalu.
Lalu aku? Akukah yang sakit ataukah aku ini kenapa?
Hanya ada 2 juz yang berhasil aku hafalkan selama itu. 2 juz yang tak lancar. 2 juz yang ayat-ayatnya lari dan bertukar-tukar.
Kemanakah semangatku? Dimanakah ia?? Bagaimanakah aku mendapatkannya???
Sebelum segalanya terlambat, aku harus menemukan dia…..
_to be continued_

0 komentar:
Posting Komentar