Pagi yang cerah di hari minggu yang tenang.
Penduduk asrama Darut Tahfidz yang berbilang tiga puluh tujuaan orang banyak yang pulang ke rumahnya liburan. Semalam saja yang ikut makan malam hanya ada sepuluh orang. Katanya yang tidak pulang ada empat belas orang, namun yang empat orang lainnya katanya sudah kenyang. Padahal di hari senin-jum’at, kami biasa antri di ruang makan. Meja makan pun penuh, layaknya warung yang ramai pengunjung.
Suasana asrama sepi. Tidak ada suara-suara menghafal dari dalam kelas. Tidak terdengar suara-suara panggil sana panggil sini. Tidak ada yang lalu lalang di koridor pulang pergi kamar-kelas-kamar. Tidak ada suara cekikan canda tawa. Benar-benar sepi.
Aku di dalam kelas, mengetik. Aku sendiri, namun tak sepi. Hatiku tak galau dan tak pula tidak tenang. Aku menikmati kesendirianku, karena memang hal inilah yang aku suka. Sendiri memikirkan diri memikirkan kata.
Asrama Darut Tahfidz. Begitulah nama asrama ini disebutkan. Sebuah sebutan yang jika difikirkan terkesan bahwa asrama ini layaknya pesantren pada umumnya yang berada dalam lingkungan yang luas, nyaman, asri. Khayalkanlah sebuah gedung. Jika masuk gerbang letak gedung berada di kanan. Gedungnya berlantai tiga bercat hijau, tiap lantai memiliki lima kamar saling berhadapan, tiap jendelanya bergorden pink. Dan asrama Daarut Tahfidz ini letaknya di lantai tiga. Lantai dua di huni anak-anak yatimah. Dan lantai satu digunakan sebagai kantin. Ya, lantai satu itu hanya khusus untuk tempat makan. Jadi asrama Darut Tahfidz itu hanyalah satu lantai dari suatu gedung.
Darut tahfidz ini dibentuk oleh yayasan Al-Fityan School Gowa-Sulawesi Selatan. Yayasan ini memiliki taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan tahfidzul qur’an. Tahfidzul Qur’annya di bentuk ba’da Romadhon tahun 2012. Maaf, aku belum mengerti betul sejarah asrama darut tafidz ini, bagaimana awal dibentuk, tujuannya pun belum jelas. Tapi yang kita ketahui bersama, sebuah asrama tahfidz dibangun atau dibentuk tujuannya mecetak kader-kader shohibul qur’an, generasi-generasi qur’ani. Aku hanya mendaftar sebagai anak tahfidz di sini. Sebutan anak tahfidzlah yang biasa kami ucapkan. Karena mau menyebutkan santri, kami juga bukan santri.
Ah ya... Bukannya yayasan ini terkenal. Ingin mencari taunya, googling saja. Yayasan ini bukan hanya ada di Gowa- Sulawesi Selatan, tapi ada juga di Aceh, Medan, Tanggerang. Ketika melihat gedung Al-Fityan Gowa, maka lihatlah gedung sebelah kanan, lantai tiga. Itulah asramaku-Darut Tahfidz, tempat aku berada saat ini.
Aku di sini karena skenario Allah yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Aku sebelumnya tak pernah membayangkan, bagaimana rasanya menjadi santri tahfidz kini telah ada di asrama tahfidz. Walau sebutan kami di sini bukanlah santri J. Allah Maha mendengar, Maha Mengetahui segala isi hati. Kalian yakin hal itu??. Aku dari dulu telah meyakininya, namun pembuktian yang teramat sangat dan teramat berkesan dari “Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala isi hati” baru sekarang. Selalu terbukti setiap saat, namun yang “Teramat sangat berkesan” baru kali ini.
Seingat aku, aku jarang meminta secara khusus agar aku di masukkan di asrama tahfidz, malah tak pernah. Aku hanya menghadirkan dalam hati, mengkhayalkannya, dan membayangkan berada di asrama tahfidz. Namun memintanya setiap kali selesai sholat wajib, di sujud terkahir, di sepertiga malam, rasanya tak pernah. Tapi Allah mengetahui apa di hatiku, dan mengabulkannya. Bagaimana hal ini tidak berkesan bagiku??
_to be continued_
Ahad, 24 Februari 2013
 |
| GedungAl-Fityan School Gowa |